Teguh Kinarto

"Rumah Untuk MBR dari Penjualan Properti Untuk Orang Asing"

Kepedulian Teguh Kinarto terhadap kalangan bawah, khususnya Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) terbilang besar.  Terbukti, awal pijakan penting  dalam sejarah karier bisnis properti Teguh adalah proyek pembangunan rumah sederhana di 22 kota dan kabupaten sekaligus di Jatim yang diresmikan pada 1997 oleh Gubernur Jatim saat itu, Basofi Soedirman. Lewat proyek rumah sederhana itu, perusahaan pengembang milik Teguh mulai dikenal lantaran mampu menyelesaikan pembangunan 8.000 rumah dalam jangka waktu satu tahun. Prestasi ini turut mendongkrak nama REI secara keseluruhan karena mampu memberikan kontribusi besar pada pembangunan hunian untuk MBR.

Sukses dengan proyek rumah sederhana membuat Teguh kian dipercaya sebagai pengembang perumahan di berbagai kota/kabupaten di Jatim, khususnya untuk hunian sederhana. Tentu saja kesuksesannya ini makin mengokohkan Teguh Kinarto sebagai salah satu pengembang yang dapat dipercaya di industri properti nasional.

Salah satu usulannya adalah, Real Estat Indonesia (REI) akan mendorong pemerintah untuk membuka keran terhadap kepemilikan properti oleh asing di Indonesia. “Hal ini justru bakal menguntungkan negara bukan menjual negara,” kata Teguh Kinarto.   Ia mengatakan, kepemilikan properti oleh asing akan berdampak cukup besar bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Ini dikarenakan akan ada perputaran ekonomi, pajak dan devisa. Sementara Teguh tidak melihat adanya sisi negatif seperti terjadi pada sektor lainnya.

“Kami tidak melihat sisi negatif dari kepemilikan asing ini. Banyak manfaat malah, lihat saja properti kan  ada pajak 10 persen, pajak barang mewah 20
persen, ada pajak-pajak lain kalau ditotal bisa sampai 40 persen. Ini secara total berapa devisa yang akan masuk,” katanya.
Teguh mempertanyakan “kenapa pemerintah melarang investor asing membeli dan memiliki properti di Indonesia”. Padahal kepemilikan pihak asing
tersebut hanya bersifat hak pakai bukan hak milik. Satu sisi sektor lain dalam pertambangan misalnya memperbolehkan pihak asing masuk dan menjual.“Kan  kita tidak menjual tanah atau negara ini, justru dengan adanya investor asing dan membeli properti di Indonesia, bisa membawa keluarga dan berbelanja di Indonesia dan ini ada perputaran uang dolar di sini,” kata dia.