REKLAMASI : MEMBUKA LAHAN, MENEBAR PELUANG

Memperluas pulau atau membuat pulau baru digadang dapat meningkatkan produktivitas lahan. Di sisi lain, risiko pun membayangi.

Reklamasi lahan—biasa disebut reklamasi atau land fill—adalah proses menciptakan lahan baru di laut, sungai, atau danau. Proses ini banyak digunakan untuk memberdayakan lahan yang tak terpakai menjadi lahan produktif.
Reklamasi lahan dapat dilakukan dengan beberapa metode berbeda. Metode yang paling sederhana hanya dengan proses mengisi area reklamasi dengan batu-batu besar dengan campuran semen. Setelah itu, diisi dengan tanah liat dan tanah sampai ketinggian yang diinginkan. Proses ini disebut “infilling” dan bahan yang digunakan untuk mengisi area reklamasi umum disebut “infill”.

Salah satu proyek reklamasi berskala besar adalah pembangunan Beemster Polder di Belanda yang dibuat pada 1612 dan berhasil menambah lahan seluas 70 km².

Di Hong Kong, Reklamasi Praya yang dilakukan dalam dua tahap, berhasil menambahkan lahan 20,2 - 24,3 hektare. Reklamasi yang rampung di 1890 tersebut  merupakan salah satu proyek paling ambisius selama masa kolonial di Hong Kong.
Sekitar 20% lahan di wilayah Teluk Tokyo juga merupakan hasil reklamasi, yang paling terkenal adalah pulau buatan Odaiba. 
Le Portier, Monaco, dan Gibraltar juga diperluas dengan reklamasi. Sementara itu, kota Rio de Janeiro (Brasil) dan Wellington (Selandia Baru), sebagian besar lahannya dibangun di atas tanah reklamasi.

Baca Selengkapnya Di www.propertyandthecity.com

kamis,12/2/2015